Sekjen PAN sekaligus Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Eko Patrio, akhirnya memberikan klarifikasi terkait video parodi DJ sound horeg yang sempat viral di media sosial. Video tersebut sebelumnya menuai kritik karena dianggap sebagai sindiran dan tidak peka dengan kondisi masyarakat.
Dalam pernyataannya, klarifikasi Eko Patrio menegaskan bahwa video itu dibuat tanpa maksud buruk apalagi menantang rakyat. Ia pun menyampaikan permintaan maaf kepada publik jika ada yang merasa tersinggung.
Latar Belakang Video Eko Patrio Viral
Video itu pertama kali diunggah lewat akun TikTok pribadinya. Dalam tayangan, Eko berperan sebagai DJ yang memainkan musik sound horeg, lalu terlihat sejumlah orang berseragam partai ikut berjoget. Tulisan yang muncul dalam video membuat publik mengaitkannya dengan momen kontroversi sebelumnya, yakni saat Eko Patrio joget di sidang MPR.
Namun Eko menjelaskan, pembuatan video parodi itu sebenarnya dilakukan saat acara pembubaran panitia 17 Agustus di internal partai. Ia menegaskan bahwa tujuannya hanya sebatas hiburan setelah acara panjang, bukan bentuk perlawanan pada kritik publik.
Baca Juga:
Immanuel Ebenezer Ditangkap KPK, Ini Kronologi Lengkap OTT Wamenaker
Benny Rhamdani Diperiksa Soal Utang Pilwako Rp10 Miliar
Joget di Sidang Tahunan MPR
Sebelumnya, publik sudah lebih dulu menyoroti aksi joget Eko Patrio di sidang MPR 2025 bersama sejumlah anggota DPR lainnya. Mereka tampak bergoyang mengikuti lagu daerah seperti “Sajojo” dan “Gemu Fa Mi Re”. Aksi tersebut viral dan menimbulkan anggapan bahwa anggota DPR tidak peka terhadap kondisi masyarakat yang sedang sulit.
Menanggapi hal itu, Eko Patrio klarifikasi bahwa joget tersebut terjadi setelah Presiden Prabowo menyampaikan pidato kenegaraan. Saat acara ditutup, mahasiswa Universitas Pertahanan menampilkan hiburan musik daerah. Menurutnya, aksi joget muncul spontan sebagai bentuk apresiasi atas penampilan seni budaya Indonesia, bukan euforia terkait tunjangan DPR.
Isu Tunjangan DPR Jadi Pemicu Kritik
Di saat yang hampir bersamaan, publik juga menyoroti isu tunjangan rumah anggota DPR yang mencapai Rp 50 juta per bulan. Hal ini membuat total pendapatan anggota dewan meningkat signifikan hingga sekitar Rp 100 juta. Tak heran jika momen joget para anggota DPR, termasuk Eko Patrio, semakin menjadi sasaran kritik masyarakat.
Namun, Eko kembali menegaskan bahwa joget tersebut tidak ada hubungannya dengan tunjangan DPR. Baginya, penting agar masyarakat memahami konteks sebenarnya: aksi itu murni spontanitas untuk mengapresiasi mahasiswa yang sudah berlatih keras demi penampilan di sidang tahunan MPR.
Baca Juga:
Ridwan Kamil Tidak Jadi Ayah Biologis Anak Lisa Mariana
Kepala Cabang BRI Diculik dan Dibunuh, Dirut Angkat Bicara
Kontroversi video parodi DJ sound horeg dan aksi joget di sidang MPR membuat nama Eko Patrio ramai diperbincangkan. Meski begitu, Eko menekankan bahwa tidak ada maksud menyinggung rakyat dalam aksinya. Baik parodi DJ maupun joget di sidang tahunan, menurutnya hanyalah bentuk hiburan dan apresiasi, bukan simbol ketidakpekaan anggota DPR.