Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi perhatian dunia seiring memanasnya perang AS-Israel vs Iran. Sejumlah pengamat militer menilai konflik ini berpotensi berubah menjadi perang berkepanjangan yang sulit dipastikan kapan akan berakhir.
Seorang jenderal purnawirawan Amerika Serikat bahkan menyebut bahwa jika konflik benar-benar meluas, kemenangan tidak akan mudah diraih oleh pihak mana pun. Ada beberapa alasan mengapa perang melawan Iran diperkirakan tidak akan berjalan sesuai harapan AS dan Israel.
Berikut beberapa faktor utama yang membuat konflik ini diprediksi sangat rumit.
Keraguan Mengirim Pasukan Darat
Salah satu tantangan terbesar bagi Amerika Serikat adalah keputusan untuk mengerahkan pasukan darat ke wilayah Iran. Meskipun ada berbagai pernyataan keras mengenai konflik ini, banyak pihak menilai bahwa Washington tidak benar-benar ingin terjebak dalam perang darat yang panjang.
Tujuan utama yang sering disebut adalah membatasi program nuklir Iran, mengurangi kemampuan rudal balistik dan drone, serta melemahkan jaringan sekutu Iran di kawasan Timur Tengah. Namun, mencapai target tersebut tanpa operasi darat tentu bukan perkara mudah.
Pengalaman perang di Irak dan Afghanistan juga menjadi pelajaran penting. Kedua konflik tersebut berlangsung sangat lama dan menguras sumber daya besar, sehingga pemerintah AS cenderung berhati-hati untuk tidak mengulang situasi serupa.
Baca Juga:
IHSG Ambruk 2,5%! Saham Konglo Berguguran, Ini Biang Keroknya
Musala Ponpes Al Khoziny Sidoarjo Ambruk, Begini Fakta Lengkapnya
Sulit Memaksa Iran Kembali Berunding
Konflik militer juga belum tentu langsung membuat Iran kembali ke meja perundingan. Banyak pengamat menilai bahwa tekanan militer saja tidak selalu berhasil memaksa suatu negara untuk mengalah.
Apalagi, konflik seperti ini bisa berubah menjadi perang yang tidak memiliki batas waktu jelas. Perang baru akan berhenti ketika salah satu pihak merasa perlu mencari solusi diplomatik.
Meski begitu, peluang negosiasi sebenarnya tetap terbuka. Jika Iran bersedia memenuhi sejumlah tuntutan dari Amerika Serikat, kemungkinan penyelesaian melalui jalur diplomasi masih bisa terjadi.
Serangan Udara di Perang AS-Israel vs Iran Kurang Meyakinkan
Strategi lain yang kemungkinan digunakan adalah serangan udara atau pengeboman terhadap fasilitas penting Iran, seperti instalasi militer, infrastruktur strategis, hingga fasilitas nuklir.
Namun dalam sejarah peperangan, kampanye pengeboman jarang menjadi faktor penentu kemenangan secara mutlak. Serangan semacam ini memang bisa melemahkan kemampuan militer lawan, tetapi belum tentu membuat sebuah negara menyerah.
Karena itu, jika konflik benar-benar terjadi, serangan udara kemungkinan hanya akan menjadi bagian dari tekanan jangka panjang yang terus berlangsung.
Dukungan Rusia dan China di Perang AS-Israel vs Iran
Selain strategi militer, situasi geopolitik global juga mempengaruhi jalannya konflik. Dua negara besar yang memiliki hubungan cukup dekat dengan Iran adalah Rusia dan China.
Rusia cenderung memberikan dukungan dalam bentuk pernyataan politik dan kerja sama militer terbatas. Meski memiliki hubungan strategis dengan Iran, Moskow tampaknya berhati-hati agar tidak terlibat langsung dalam perang besar, terutama karena masih sibuk dengan konflik lain.
Sementara itu, China memiliki kepentingan ekonomi yang besar terhadap Iran, terutama dalam sektor energi. Negara ini merupakan salah satu pembeli utama minyak Iran dan menjadi mitra dagang penting bagi Teheran.
Namun seperti Rusia, Beijing biasanya memilih pendekatan yang lebih hati-hati. China cenderung mendorong penyelesaian konflik melalui diplomasi sambil tetap menjaga hubungan ekonomi dengan Iran.
Baca Juga:
Fakta Mengejutkan di Balik File Epstein Terbaru
Pesawat BBM Pelita Air Jatuh di Nunukan, Ini Kronologinya
Jika konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel benar-benar berkembang menjadi perang besar, situasinya kemungkinan tidak akan sederhana. Banyak faktor yang membuat perang ini berpotensi berlangsung lama dan sulit dimenangkan oleh salah satu pihak.
Keraguan mengirim pasukan darat, keterbatasan efektivitas serangan udara, hingga kompleksnya dukungan geopolitik dari negara lain menjadi tantangan besar dalam konflik ini. Karena itu, banyak pengamat menilai bahwa solusi diplomatik tetap menjadi jalan paling realistis untuk menghindari konflik berkepanjangan yang bisa berdampak luas bagi dunia.









