IHSG Ambruk 2,5%! Saham Konglo Berguguran, Ini Biang Keroknya

Berita, Keuangan2 Dilihat

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali dibuka di zona merah pada perdagangan Rabu pagi (4/3/2026). Tekanan ini jadi lanjutan dari penurunan tajam sehari sebelumnya, setelah indeks sempat terkoreksi hampir 1% dan bahkan anjlok lebih dari 2% dalam dua hari terakhir.

Belum sampai setengah jam perdagangan dimulai, IHSG sudah terpangkas lebih dari 200 poin atau sekitar 2,5% ke kisaran 7.736. Koreksi cepat ini menunjukkan tekanan jual yang masih cukup besar di pasar.

Mayoritas Saham Terkapar Efek Penurunan IHSG

Sejak awal sesi, ratusan saham langsung bergerak turun. Lebih dari 500 saham melemah, sementara yang menguat hanya sekitar seratusan. Sisanya stagnan. Nilai transaksi pun sudah menyentuh hampir Rp6 triliun dengan miliaran saham berpindah tangan dalam ratusan ribu transaksi.

Beberapa saham yang paling ramai diperdagangkan pagi ini di antaranya ENRG, BUMI, dan MEDC. Aktivitas tinggi ini menandakan investor masih aktif keluar-masuk pasar di tengah volatilitas.

Sektor Infrastruktur dan Barang Baku Paling Tertekan

Seluruh sektor tercatat berada di zona merah. Tekanan paling dalam dialami sektor infrastruktur dan barang baku. Sementara itu, sektor kesehatan dan energi relatif lebih mampu menahan koreksi meski tetap melemah.

Saham-saham blue chip dan emiten milik konglomerasi ikut menjadi pemberat utama. Sejumlah saham grup besar kompak mengalami penurunan signifikan sehingga ikut menyeret IHSG lebih dalam.

Berikut beberapa saham yang paling menekan pergerakan indeks hari ini:

  • Barito Renewables Energy (BREN)
  • Amman Mineral Internasional (AMMN)
  • Telkom Indonesia (TLKM)
  • Bank Mandiri (BMRI)
  • Bumi Resources Minerals (BRMS)
  • Chandra Asri Pacific (TPIA)
  • Bank Central Asia (BBCA)
  • Bank Rakyat Indonesia (BBRI)
  • Merdeka Gold Resources (MDKA)
  • VKTR Teknologi Mobilitas (VKTR)

Penurunan saham-saham besar ini membuat laju IHSG makin berat untuk bangkit.

Baca Juga:
IHSG Melemah Tipis, Saham Big Cap Jadi Biang Kerok
BI Rate Dipangkas Lagi, Saham Bank Jadi Incaran Investor

Sentimen Dalam Negeri

Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada perkembangan kebijakan terbaru terkait pasar modal. Regulator bersama lembaga terkait telah memperbarui aturan keterbukaan data pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1%. Informasi ini kini mulai dipublikasikan sebagai bentuk transparansi kepada investor.

Selain itu, proses reklasifikasi tipe investor yang sebelumnya berjumlah 9 kategori kini diperluas menjadi 27 kategori juga hampir rampung. Kenaikan batas minimal free float dari 7,5% menjadi 15% pun sedang diproses dan tinggal menunggu persetujuan akhir sebelum diterapkan.

Regulator juga berencana menghadirkan daftar konsentrasi pemegang saham (shareholder concentration list) guna membantu investor menilai risiko kepemilikan yang terlalu terpusat pada pihak tertentu.

Tekanan Global Juga Membebani IHSG

Bukan cuma faktor domestik, sentimen global juga ikut membebani pasar. Bursa saham Asia kompak melemah tajam. Indeks Kospi Korea Selatan misalnya, turun lebih dari 7% dan mencatatkan pelemahan terdalam dalam lebih dari setahun terakhir.

Pasar Jepang dan Australia juga terkoreksi. Kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong turut menunjukkan pelemahan. Investor regional mencermati situasi geopolitik yang memanas di Timur Tengah, terutama terkait potensi gangguan distribusi energi global.

Harga minyak dunia pun melonjak. Minyak mentah AS dan Brent sama-sama mengalami kenaikan signifikan seiring meningkatnya tensi konflik yang memicu kekhawatiran pasar.

Di Amerika Serikat, Wall Street juga ditutup melemah. Indeks Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq kompak terkoreksi setelah sempat jatuh lebih dalam di tengah sesi. Kekhawatiran akan konflik berkepanjangan membuat pelaku pasar memilih bersikap hati-hati.

Asing Masih Aktif Borong Saham

Menariknya, di tengah tekanan IHSG, investor asing justru tercatat melakukan pembelian bersih bernilai triliunan rupiah. Beberapa saham yang banyak dikoleksi asing antara lain:

  • BMRI
  • PTBA
  • ENRG
  • UNTR
  • TLKM
  • ITMG
  • BRPT
  • ESSA
  • GTSI
  • BULL

Aksi beli ini dinilai membantu menahan tekanan lebih dalam pada perdagangan sebelumnya, meski belum cukup kuat membalikkan arah indeks secara keseluruhan.

Baca Juga:
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Naik Signifikan, Tapi Banyak yang Curiga
Asing Ramai-Ramai Jual Saham, BBCA Jadi yang Paling Tertekan

IHSG yang kembali melemah menunjukkan bahwa tekanan pasar belum mereda. Kombinasi sentimen domestik, pembaruan regulasi, hingga gejolak global akibat konflik geopolitik membuat investor cenderung bersikap defensif. Meski investor asing masih memborong sejumlah saham unggulan, volatilitas diperkirakan masih akan mewarnai pergerakan pasar dalam waktu dekat.

Bagi investor, kondisi seperti ini menuntut strategi yang lebih bijak dan disiplin dalam mengelola risiko. Tetap pantau perkembangan ekonomi global dan kebijakan dalam negeri sebelum mengambil keputusan investasi di pasar saham.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *